Rasa yang kau tawarkan padaku
saat ku lelah dalam kesendirian
Hayalku kembali bersamamu
mengarungi malam dalam cerita indah
membentuk mimpi bersama
Dalam nuansa yang berbeda
Ah apakah masih ada..
atau memang tak pernah ada..
Kau..aku..
semua terasa berbeda kini
Inginku bertanya
inginku berucap..
dalam gundah hatiku
masihkah ada rasa itu..
untukmu yang ada disana
(IRLU)
Senja, Jingga, Kau datang kembali
Sang mentari kembali bersembunyi di perut malam
Bintang mulai menampakkan wajahnya.
Wahai hati yang sedang gulana
Jiwa yang sedang meronta,
Apa yang kau risaukan
Angin, bisikan salam ini padanya
Aku kan ada untukmu,
Sandarkan lelahmu di bahuku
Lepaskan resahmu dihatiku
Kau tak sendiri...
Aku ada bersama Mu...
Karena aku selalu bersama Mu...
Sabtu, 16 Desember 2006 @ 20.15
Sebuah SMS dari Dia membuatku semangat untuk membaca, setelah beberapa hari telepon gak pernah diangkat.
Satu demi satu karakter aku baca dari awal sampai akhir dan sesaat kemudian hatiku mulai terhentak dengan isi SMSnya :
Keadaanku kurang baik
Maaf beberapa hari ini gak bisa sembarangan telepon,
Setelah kejadian beberapa hari yang lalu Orang Tuaku semakin Protektif,
Sekarang aku hanya bisa pasrah kepada keputusan Orang Tuaku.
Sekarang harus di Rumah sampai keputusan dari Keluarga Mas XXXX
Kerena yang biayai kuliahku
Ternyata aku hanya bisa membaca SMS ini dan gak bisa berbuat apa-apa
Dan yang bisa aku lakukan adalah menuliskannya di Catatan Usang ini.
Aku bukanlah Pangeran Berkuda yang bisa menolong Seorang Putri yang terkurung di Puri Istana yang Tinggi.
Aku Bukanlah Samsul Bahri yang melawan Datuk Maringgih untuk membebaskan Siti Nurbaya.
Aku hanyalah Samurai Tanpa Pedang yang penuh dengan sayatan luka di sekujur tubuh.
Aku hanyalah Seorang Penyair yang kehilangan pena dan tak bisa lagi menulisakan sajak-sajak indah.
Aku tak mampu berbuat apa-apa, karena aku mungkin hanyalah seorang pengecut.
Yang bisa aku lakukan hanyalah berharap bahwa ini adalah yang terbaik untukmu. Karena Aku Yakin dan percaya bahwa Kau tak akan mengcewakan kedua orang tuamu.
Walaupun aku hanya bisa tersenyum dalam tangisku.
Maafkan Aku.
Dalam sebuah pesta yang meriah, seorang kader partai yang kini duduk sebagai anggota dewan mendapat ucapan selamat dari seseorang yang mengaku sebagai teman lamanya.
''Selamat! Anda kini sudah terpilih menjadi wakil rakyat,'' katanya.
''Terima kasih. Anda siapa ya?'' Tanya si kader partai itu sambil mengingat-ingat. ''Kayaknya saya pernah melihat wajah Anda sebelum ini,'' tambahnya.
''Betul sekali,'' kata seseorang itu. ''Saya kan pernah lama satu blok di penjara yang Anda huni lima tahun lalu karena kasus korupsi,'' jelasnya.
BERSUAMI POLITIKUS
Laila baru seminggu menikah dengan seorang pria idamannya, tetapi sudah minta saran ke lembaga penasihat perkawinan di kotanya.
''Anda kan masih pengantin baru. Kenapa sudah datang ke sini? Apa sih pangkal persoalannya?'' kata seorang penasihat perkawinan.
''Betul Pak saya masih pengantin baru. Masalahnya adalah, suami saya itu seorang politikus,'' jawab Laila.
''Memangnya kenapa kalau suami seorang politikus,'' tanya penasihat itu lagi dengan nada penasaran.
''Suami saya itu benar-benar telah membuat saya frustrasi. Setiap malam dia hanya duduk di tempat tidur. Dia tidak melakukan apa-apa, tapi janji, janji, dan janji melulu. Saya kesal Pak!'' kata Laila.
ALASAN TIDAK BERTERIAK
Seorang wanita yang baru saja menjadi korban perkosaan datang melapor kepada polisi. Dia lalu bercerita tentang kronologis peristiwa yang baru saja dialaminya.
''Saat itu saya sedang berjalan di sebuah jalan kecil ketika parpol lawan politik saya sedang berteriak-teriak berkampanye di jalan-jalan. Tiba-tiba ada dua laki-laki yang menyerang saya. Mereka lalu merobek pakaian saya dan kemudian memperkosa saya. Peristiwa itu benar-benar mengerikan,'' jelasnya.
''Mengapa Anda tidak berteriak-teriak minta tolong?'' tanya polisi yang menerima laporan itu.
''Maaf, Pak. Kalau saya berteriak-teriak, nanti saya dikira pendukung parpol lawan politik saya itu.
GOLPUT PILKADA
Dono dan Doni, dua sahabat, sedang asyik berdiskusi tentang pilkada yang segera dilaksanakan di kotanya.
''Saya tidak ingin mencoblos salah satu pasangan calon yang dijagokan parpol itu,'' kata Dono membuka pembicaraan siang itu.
''Lho kenapa Anda memilih jadi golput?'' tanya Doni.
''Bagaimana saya mau mencoblos. Wong saya tidak banyak tahu tentang kebaikan pasangan calon yang diusung parpol-parpol itu. ''Kalau Anda sendiri gimana,'' tanya Dono.
''Saya sendiri juga tidak tahu pasangan mana yang harus saya coblos. Soalnya, saya tahu banyak tentang keburukan semua pasangan calon dan parpol-parpol yang menjagokan mereka itu,'' kata Doni.
PERILAKU BIROKRASI
Ada seorang pegawai negeri baru yang rajin mencatat kesan-kesannya selama dia berkarir di birokrasi. Yang dia catat umumnya tentang perilaku para PNS di kantornya. Inilah sebagian dari catatan hariannya yang disimpulkan setiap akhir tahun:
Selama tahun pertama: ''Saya menganggap semua orang baik.''
Tahun kedua: ''Hanya beberapa pegawai saja yang baik.''
Tahun ketiga: ''Banyak pegawai yang brengsek.''
Tahun keempat: ''Jumlah orang yang brengsek lebih banyak daripada yang baik-baik.''
Kesimpulan tahun kelima: ''Semua orang brengsek, dan saya akhirnya ikut brengsek juga daripada tidak kebagian dan dikucilkan.''
BEDA PEJABAT DAN ROBIN HOOD
''Apa beda antara pejabat yang korup dengan Robin Hood?'' tanya Kasan kepada temannya, Ali, dalam sebuah obrolan ringan.
''Ya jelas beda dong. Kalau Robin Hood, dia merampok harta kekayaan dari orang-orang kaya untuk membantu warga miskin,'' kata Ali.
''Kalau pejabat korup?'' tanya Kasan.
''Kalau pejabat korup, dia merampok uang rakyat, tidak peduli rakyat kaya atau miskin, dan membuat rakyat miskin menjadi semakin miskin,'' jelas Ali.
DI KANTOR DI RUMAH SAMA
Sudah menjadi rahasia umum bahwa pegawai pemerintah banyak nganggurnya di kantor. Paling-paling ngobrol dan ngrumpi sesama teman, atau baca-baca koran.
Suatu pagi, jam 08.00 WIB, seorang pejabat asyik membaca koran di ruang tamu di rumahnya. ''Tolong bikinkan saya kopi lagi,'' katanya.
Istrinya yang duduk agak jauh segera meresponnya. ''Bukankah sekarang ini mestinya Bapak sudah di kantor,'' kata sang istri.
''Oh, saya pikir saya ini sedang di kantor,'' kata si pejabat itu sambil beranjak berdiri.
suaranya semakin keras
tawa yang ternyata palsu
bernyayi, berpesta diantara derita
tikus berorasi
membuat janji
mengambil hati
tikus kembali beraksi
aku hidup bersama mereka
ada diantara mereka
didalam kotak yang sama
didalam arus yang sama
tikus kembali bernyanyi
tanpa peduli
tanpa melihat
tanpa mendengar
pesta tikus
pesta derita
diantara luka-luka
yang tak pernah terlihat
hanya tawa
hanya nyanyian
hanya kelicikan
yang tertinggal dari semua pestanya